Proses Produksi Gurita Legs Beku Sesuai Standar Mutu Ekspor
Abstract
Gurita merupakan komoditi perikanan yang mudah sekali mengalami kemunduran mutu. Oleh karena itu, penanganan yang baik disertai dengan penerapan rantai dingin dan pengawasan kebersihan yang ketat sangat diperlukan agar dapat mengurangi terjadinya proses pembusukan. Salah satu usaha memperpanjang atau mempertahankan kesegaran gurita adalah dengan cara pembekuan. Pembekuan dilakukan dengan tujuan mengawetkan bahan pangan dengan cara membekukan bahan pada suhu di bawah titik beku. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan proses pembekuan gurita bentuk Legs untuk tujuan ekspor. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi langsung, wawancara, dan literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pembekuan gurita legs dilakukan melalui beberapa tahap yaitu; penerimaan bahan baku, penyortiran dan penimbangan I, pencucian I, pembersihan, pengadukan (tumbling), pencucian II, pemotongan dan penimbangan II, pembungkusan dan penghampaan udara (vakum), pembekuan (freezing), pendeteksian logam, penimbangan akhir, pengepakan dan pelabelan, penyimpanan beku, dan pemuatan ke kontainer untuk proses pengiriman ke negara tujuan ekspor. Persyaratan utama bahan baku yang diolah di PT. Biru Laut Nusantara, Makassar adalah harus dalam kondisi segar untuk menjamin produk akhir yang dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Mulai dari proses penerimaan bahan baku hingga proses pengemasan produk gurita leg beku suhu produk harus dipertahankan melalui penerapan rantai dingin dengan cara pemberian es kristal pada wadah produk. Proses pembekuan gurita legs, dilakukan menggunakan mesin ABF dengan suhu dipertahankan sekitar -35 sampai -45°C. Produk gurita leg beku yang sudah dikemas dalam master cartoon disimpan pada cold storage dengan suhu yang digunakan adalah kurang dari -25°C.