Pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) pada berbagai konsentrasi pupuk urin sapi

  • Erna Halid Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan
  • Abdul Mutalib Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan
  • Sufyan Sufyan Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan
Keywords: kakao, pertumbuhan, pupuk organik, urin sapi

Abstract

Peningkatan produksi kakao dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti penggunaan bibit unggul, aplikasi pupuk yang tepat, pemakaian zat pengatur tumbuh dan perbaikan cara bercocok tanam. Salah satu jenis pupuk yang dapat meningkatkan aktivitas pertumbuhan tersebut adalah pupuk organik. Urin sapi merupakan salah satu alternatif pupuk organik yang dapat digunakan dalam pemeliharaan tanaman kakao. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kakao pada pemberian berbagai konsentrasi pupuk urin sapi. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan. Penelitian dirancang berdasarkan rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan yaitu: 25 cc urin sapi/liter air, 50 cc/liter air, 75 cc/liter air, 100 cc/liter air dan tanpa pemberian urin sapi sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk urin sapi sangat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kakao dan konsentrasi 75 cc/liter air sampai 100 cc/liter air menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan laju fotosistesis tanaman kakao tertinggi.

Author Biographies

Erna Halid, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan

Abdul Mutalib, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan

Sufyan Sufyan, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Jurusan Tanaman Perkebunan

References

BPP Jatinom. 2013. Pembuatan FERINSA (Fermentasi Urine Sapi). http://cybex.deptan.go.id/lokalita-urine-sapi. [ 27 Agustus 2016].
[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan, 2010. Volume dan Nilai Ekspor, Impor Indonesia. Kakao. Diakses 27 Agustus 2016.
Desiana, C., Banuwa, I.S., Evizal, R. dan Yusnaini, S. 2013. Pengaruh Pupuk Organik Cair Urin Sapi Dan Limbah Tahu Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.). Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
Dharmayanti, N.K.S., Supadma, N., Arthagama, DM. 2013. Pengaruh Pemberian Biourine dan Dosis Pupuk Anorganik (N,P,K) Terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah Pegok dan Hasil Tanaman Bayam (Amaranthus sp.). Fakultas Pertanian, Universitas Udayana.
Gardner, F.P., Pearce, R.B. dan Mitchell, R.L. 1999. Fisiologi Tanaman Budidaya. Penerbit UI Press. Jakarta.
Nasruddin. 2009. Kakao, Budidaya dan Beberapa Aspek Fisiologisnya. YayasanForest Indonesia dan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar.
Nasaruddin dan Rosmawati. 2010. Pengaruh Pupuk Organik Cair (Poc) Hasil Fermentasi Daun Gamal, Batang Pisang Dan Sabut Kelapa Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao. Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin
Priangga dan Suwarno. 2013. Pengaruh Level Pupuk Organik Cair Terhadap Produksi Bahan Kering Dan Imbangan Daun-Batang Rumput Gajah Defoliasi Keempat. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Yahya, A. M., Diniah, Pujiyati, S., Parwinia, E., Sobri, H., Muhammad, S., Rusyadi & Farhan, A. 2001. Pemanfaatan Sumberdaya Tuna-Cakalang secara Terpadu (Tesis). Bogor: Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Rifqha, S. 2004. Pengaruh pemberian urine sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau. Pekanbaru.
Rizal, AS. 2012. Pupuk Organik Cair. http://cerita-dari-itb.blogspot.com/2012/09/pupuk-organik-cair.html.
Suprijadji, G. 1985. Air kemih sapi sebagai zat perangsang perakaran stek kopi. Warta penelitiaan dan pengembangan pertanian. Depertemen Pertanian Indonesia. Jakarta 82 hal.
Worldatlas. 2019. https://ilmupengetahuanumum.com/10-negara-penghasil-kakao-terbesar-di-dunia/. ( 19 November 2019)
Published
2019-06-27
How to Cite
Halid, E., Mutalib, A., & Sufyan, S. (2019). Pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) pada berbagai konsentrasi pupuk urin sapi. Agrokompleks, 19(2), 27-34. https://doi.org/10.51978/japp.v19i2.105